## Kau Memelukku di Bawah Hujan, Tapi Langit Tahu Kita Sedang Berpisah Jakarta, kota yang selalu menangis diam-diam di balik gemerlapnya lampu. Hujan sore itu, bukan lagi rintik manja, melainkan air mata tumpah yang membasahi aspal dan kenangan. Di sanalah, di bawah kanopi sebuah kafe yang menawarkan aroma kopi dan kehangatan palsu, **KAU** memelukku. Erat. Seolah dunia akan runtuh jika jarak di antara kita bertambah satu senti saja. Saat itu, notifikasi di ponselku tak berhenti berdering. Pesan dari teman, pengingat rapat yang tak mungkin kuhadiri, dan satu nama yang selalu membuat jantungku berdebar: Lia. Ironis, bukan? Pelukanmu terasa hangat, sementara pikiranku berkelana ke layar *retina* ponselku, terpaku pada foto profilnya. Semuanya dimulai dari mimpi. Mimpi tentang taman lavender yang tak pernah ada, tentang suara tawanya yang renyah, dan tentang kita, yang berjalan bergandengan tangan di bawah langit senja. Lalu, notifikasi pesan masuk menjadi jembatan. Obrolan larut malam tentang buku, film, dan ketakutan-ketakutan kecil yang kita bagi. Kita membangun kastil di atas *chat* yang belum sempat terkirim, rumah impian di balik emoji dan stiker konyol. Kenangan bersama Lia bagai _kode yang tak bisa di-decrypt_. Aku mencoba menghapusnya, menindihnya dengan pelukanmu, tapi jejak digitalnya terlalu kuat. Foto-foto di Instagram, _playlist_ Spotify yang kita buat bersama, bahkan sisa percakapan di aplikasi pesan instan – semuanya berteriak tentang sebuah hubungan yang belum selesai. Kau, dengan mata cokelat yang menatapku penuh harap, tahu semua ini. Kau bisa merasakannya, aroma kekalahan yang menguar dari diriku. Tapi kau tetap memelukku. Mungkin, kau berharap kehangatanmu cukup untuk membungkam masa lalu. Rahasia itu terungkap perlahan, seperti kabut yang menyibak di pagi hari. Lia, sahabat lamamu. Lia, yang selalu kau ceritakan dengan nada kagum dan sedikit cemburu. Lia, yang ternyata juga mencintaiku. Sebuah _komplikasi_ yang hanya bisa ditemukan di dunia modern ini. Aku tahu, di balik senyummu yang tulus, tersembunyi luka yang menganga. Luka yang aku ukir dengan ketidakpastianku. Luka yang aku siram dengan hujan air mata dan aroma kopi yang pahit. Saatnya tiba. Aku harus memilih. Bukan antara kau dan Lia, tapi antara kejujuran dan kepura-puraan. Antara masa lalu yang memanggil dan masa depan yang belum pasti. Aku melepaskan pelukanmu. "Aku... aku tidak bisa," bisikku, suaraku tercekat. Kau tersenyum, senyum yang lebih menyakitkan dari cacian atau air mata. "Aku tahu." Malam itu, aku mengirim pesan terakhir. Bukan pada Lia, tapi padamu. "Terima kasih sudah mencintaiku, bahkan ketika aku tidak pantas mendapatkannya." Tidak ada balasan. Tidak perlu. Semuanya sudah berakhir. Beberapa bulan kemudian, aku melihatmu di sebuah pameran seni. Kau bersama seseorang. Tertawa lepas. Bahagia. Aku mendekat, memberanikan diri menyapa. Kau menoleh, mata kita bertemu. Kau tersenyum, senyum yang tidak lagi mengandung kesedihan, melainkan kebebasan. "Hai," sapamu, suaramu hangat. "Lama tidak bertemu." Aku membalas senyummu. Lalu, aku berbalik dan pergi. Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada penjelasan. Hanya sebuah senyum terakhir dan keputusan yang menutup segalanya tanpa kata. Aku meninggalkanmu dengan *sepotong* _kekosongan_. ...Karena terkadang, balas dendam terbaik adalah **kebahagiaan** sendiri.
You Might Also Like: Cerpen Seru Cinta Yang Menemukan

Post a Comment