Hujan menggigil di atap Paviliun Yue, menirukan air mata yang bertahun-tahun tertahan di pelupuk mata Lin Wei. Aroma teh krisan yang disajikannya terasa hambar, kalah pahit dari kenangan tujuh tahun lalu. Di seberangnya, duduklah Zhao Ming, pria yang dulu adalah dunianya, kini hanya seorang asing dengan senyum yang terlalu dipaksakan. “Lama tak jumpa, Wei,” sapanya, suaranya rendah dan berat, sama seperti beban yang dipikul Lin Wei setiap malam. Lin Wei hanya mengangguk, pandangannya tertuju pada lentera di sudut ruangan. Cahayanya *nyaris padam*, seolah kebahagiaan yang pernah mereka miliki juga berada di ambang kehancuran. “Kudengar kau sukses di selatan,” lanjut Zhao Ming, mencoba mencairkan suasana kaku ini. "Begitulah," jawab Lin Wei singkat. Sukses? Ia telah *berhasil* membangun kerajaan bisnis yang megah, namun hatinya tetap hancur. Setiap sen yang dihasilkan adalah hasil keringat dan air mata, setiap langkah yang diambil adalah untuk satu tujuan: *balas dendam*. Dulu, Zhao Ming adalah kekasihnya, tunangannya. Mereka berjanji sehidup semati di bawah pohon persik yang sedang berbunga. Namun, janji itu layu bersamaan dengan musim semi. Zhao Ming mengkhianatinya. Demi ambisi dan kekuasaan, ia menikahi putri seorang jenderal berpengaruh, meninggalkan Lin Wei dengan hati yang tercabik dan reputasi yang hancur. Bayangan mereka di dinding paviliun tampak *patah*. Lin Wei merasakan perih yang sama seperti dulu, namun kali ini ia tidak akan menangis. Air mata adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli. “Aku… menyesal, Wei,” ucap Zhao Ming, raut penyesalan terpancar jelas di wajahnya. Lin Wei tertawa sinis, *dalam hati*. Penyesalan? Apa gunanya penyesalan setelah semua yang telah terjadi? "Penyesalan tidak bisa mengembalikan waktu, Ming." Malam semakin larut. Hujan semakin deras. Lin Wei menatap Zhao Ming lekat-lekat. Matanya, yang dulu penuh cinta, kini memancarkan *kegelapan* yang membingungkan. “Kau tahu, Ming, selama ini aku bertanya-tanya, apa yang membuatmu tega menghancurkan hidupku?” Lin Wei mencondongkan tubuh ke depan, suaranya berbisik, namun sarat dengan ancaman. “Aku baru menyadarinya… *semua ini adalah warisan yang seharusnya menjadi milikku*!”
You Might Also Like: 7 Fakta Arti Mimpi Menyelamatkan Kucing

Post a Comment