Hujan menggigil di luar jendela, persis seperti hatiku. Sudah sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak dia menghancurkan semua yang kami bangun, semua janji yang diukir di bawah pohon sakura yang kini layu. Aku, Lin Mei, berdiri di balkon apartemen mewah ini, menatap kota yang berkilauan, merasa asing dengan semua kemewahan ini. Dulu, kami hanya memiliki satu sama lain, satu atap bocor di atas kepala, dan ***CINTA*** yang kurasa tak akan pernah pudar. Angin berhembus kencang, membawa aroma tanah basah dan kenangan pahit. Aku ingat matanya, mata Zhao Wei yang dulu penuh dengan ketulusan, kini penuh dengan kekosongan saat dia mengucapkan kata-kata yang merobek jiwaku. "Aku mencintai wanita lain, Mei. Maafkan aku." *Maafkan aku*. Kata-kata itu terus terngiang di telingaku, seperti mantra iblis yang melumpuhkan. Setiap tetes hujan adalah air mata yang tak pernah bisa kukeringkan. Setiap bayangan panjang yang menari di dinding adalah pengkhianatan yang menghantuiku. Aku membiarkan api dendam membara dalam diam, menjadikannya bahan bakar untuk kesuksesanku. Ya, Zhao Wei, lihatlah aku sekarang. Aku bukan lagi Lin Mei yang kau tinggalkan di tengah hujan. Aku adalah Lin Mei yang akan membuatmu merasakan *penderitaan* yang sama. Aku meraih lentera kecil yang tergeletak di meja. Cahayanya nyaris padam, sama seperti cintaku padanya. Namun, di dalam redupnya, tersimpan *Rencana*. Sebuah rencana yang disusun dengan hati-hati selama sepuluh tahun, sebuah orkestrasi yang rumit untuk menghancurkanmu perlahan, dari dalam. Aku melihat pantulanku di kaca jendela. Senyum tipis tersungging di bibirku. *Cantik*, pikirku. *Dan mematikan*. Aku akan mengembalikan semuanya, Zhao Wei. Semua kebahagiaan yang kau curi. Semua mimpi yang kau hancurkan. Aku akan mengambilnya kembali dengan *cara yang sangat kejam*. Aku ingat saat kau mengatakan, "Aku akan selalu melindungimu, Mei." Betapa bodohnya aku mempercayaimu. Sekarang, giliran aku yang "melindungimu" dari... *dirimu sendiri*. Lentera itu semakin redup, dan aku tahu saatnya telah tiba. Aku memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam, dan mengucapkan mantra dalam hati. Hujan semakin deras, membasahi seluruh kota. Bayangan-bayangan menari semakin liar. Dan di dalam hati Lin Mei, sebuah rahasia kelam akhirnya terungkap: Ibu Zhao Wei, wanita yang dicintainya dulu, *adalah orang yang membunuh orang tuaku*.
You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama Usaha

Post a Comment