Baiklah, inilah kisah pendek "Kau Berlutut Memohon Maaf, Tapi Aku Sudah Tak Punya Air Mata" dengan sentuhan yang Anda minta: **Kau Berlutut Memohon Maaf, Tapi Aku Sudah Tak Punya Air Mata** Aroma dupa cendana menyelimuti kamarku. Bukan dupa biasa, tapi _dupatiwa_, dupa khusus yang konon bisa membuka tabir ingatan masa lalu. Aku, Lin Mei, seorang perancang busana ternama di Shanghai modern, selalu merasa ada kekosongan yang menganga di dalam diriku. Sebuah fragmen ingatan yang hilang. Setiap malam, mimpi-mimpi aneh menghantuiku. Seorang wanita berpakaian sutra merah darah, berdiri di bawah pohon persik yang mekar sempurna. Lalu, bayangan seorang pria, wajahnya selalu kabur, menusuk punggung wanita itu dengan belati perak. Aku tahu, mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Itu adalah ***ECHO*** dari kehidupan sebelumnya. Suatu siang, saat menghadiri pameran seni kuno, mataku terpaku pada sebuah lukisan. Seorang wanita berpakaian sutra merah darah, persis seperti dalam mimpiku. Di bawah lukisan itu, tertulis: "Lady Bai Lian, terbunuh di bawah pohon persik, musim semi tahun Jiawu." Jantungku berdebar kencang. **Bai Lian**. Nama itu bergema di dalam benakku. Semakin aku menatap lukisan itu, semakin jelas ingatan itu datang. Aku adalah Bai Lian. Dan pria yang menusukku adalah... **HUANG CHEN**. Huang Chen, kekasihku. Tunanganku. Penghianatku. Di kehidupan lampau, dia adalah seorang jenderal yang haus kekuasaan. Dia membunuhku demi menikahi putri Kaisar, demi ambisi tak berujungnya. Di kehidupanku sekarang, Huang Chen adalah Richard Huang, seorang pengusaha kaya dan berpengaruh. Dia mendekatiku, memberikan senyum manis yang dulu pernah membuatku tergila-gila. Tapi kali ini, aku tahu kebenarannya. Dia melamarku. Berlutut di hadapanku, dengan berlian sebesar mata burung merpati di tangannya. "Lin Mei, menikahlah denganku. Aku berjanji akan membahagiakanmu." Aku menatap matanya. Mata yang dulu penuh cinta, kini hanya memancarkan keserakahan. "Richard," ujarku dengan suara setenang danau di pagi hari. "Aku *berterima kasih* atas lamaranmu, tapi aku harus menolak." "Tapi kenapa? Aku bisa memberikanmu segalanya!" Dia terdengar panik. Aku tersenyum tipis. "Kau benar. Kau bisa memberiku segalanya. Kecuali satu hal: **Kepercayaan**." Aku berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Richard yang terpaku di tempatnya. Balas dendamku bukan tentang darah atau air mata. Balas dendamku adalah **keputusan**. Keputusan untuk tidak membiarkannya mengambil kendali atas takdirku, sekali lagi. Aku akan menggunakan bakatku, kekuatanku, untuk membangun imperiumku sendiri. Aku akan menjadi jauh lebih kuat dari Huang Chen. Dan aku akan melakukannya tanpa setetes pun air mata. Saat aku melangkah keluar dari ruangan itu, aku merasakan angin berhembus menerpa wajahku. Angin yang membawa aroma bunga persik, dan bisikan lirih: _Kita akan bertemu lagi, Huang Chen, di kehidupan selanjutnya, dan kuharap kau siap dengan harga yang harus kau bayar..._
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama
Post a Comment