Hujan turun di atas nisan batu, rintik lirih yang menari seperti kenangan yang enggan pergi. Di antara rimbun bambu yang berbisik, berdirilah Wei Lian, bukan sebagai manusia berdaging, melainkan sebagai bayangan pucat yang menolak dilupakan. Kematian menjemputnya terlalu cepat, sebelum kebenaran sempat terucap, sebelum hatinya menemukan ketenangan.
Dulu, ia seorang cendekiawan muda, penuh harapan dan cita-cita. Kini, ia hanya roh yang tersesat, terikat pada dunia yang ditinggalkannya oleh sebuah janji yang belum terpenuhi. Setiap malam, ia mengunjungi rumah tua itu, rumah yang dulunya dipenuhi tawa, kini hanya dihantui kesunyian yang MEMBEKU.
Di sana, ia melihat Lin Yue, tunangannya. Gadis itu layu seperti bunga yang tak disiram. Matanya yang dulu berbinar, kini redup oleh kesedihan yang tak berujung. Wei Lian ingin menyentuhnya, membelai rambutnya, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi, ia hanyalah bayangan. Sebuah GEMA dari masa lalu.
Ia menyaksikan setiap hari bagaimana keluarga Lin Yue berusaha melupakan dirinya. Mereka menyalahkan kematiannya pada kecelakaan. Sebuah kecelakaan yang disengaja, begitu bisik hatinya. Ada sebuah surat yang hilang, sebuah kesaksian yang dipendam. Dan Wei Lian tahu, kedamaiannya bergantung pada terungkapnya kebenaran itu.
Malam demi malam, Wei Lian mencoba berkomunikasi. Ia meniup lilin, menggerakkan benda-benda, menuliskan kata-kata di debu. Usahanya sia-sia. Dunia orang hidup terlalu jauh untuk disentuh oleh dunia arwah.
Namun, ia tak menyerah.
Suatu malam, saat Lin Yue tertidur di dekat meja belajarnya, Wei Lian mencoba sekali lagi. Ia memfokuskan seluruh energinya, seluruh kerinduannya, seluruh penyesalannya. Ia mencoba membangkitkan kenangan, aroma teh melati, suara tawanya sendiri.
Dan sesuatu terjadi.
Lin Yue terbangun dengan terkejut. Ia merasa kehadiran Wei Lian, seolah roh itu berdiri tepat di sampingnya. Air mata mengalir di pipinya. Di tangannya, ia menemukan sebuah bulu burung merak, bulu yang selalu Wei Lian simpan di sakunya.
Lalu, ingatan itu datang.
Ingatan tentang malam itu, malam sebelum kecelakaan. Ia dan Wei Lian bertengkar hebat. Tentang uang. Tentang kekuasaan. Tentang KEBENARAN yang berusaha disembunyikan oleh ayahnya, tentang korupsi dan pengkhianatan. Wei Lian mengancam akan membongkar semuanya.
Dan ayahnya… menyewa seseorang untuk mengakhiri hidup Wei Lian.
Lin Yue bangkit dengan gemetar. Ia tahu apa yang harus dilakukannya.
Di pengadilan, Lin Yue menceritakan semuanya. Air matanya menjadi saksi bisu kejahatan ayahnya. Kebenaran akhirnya terungkap. Keadilan ditegakkan.
Wei Lian melihat semua itu dari jauh. Ia merasakan beban di hatinya terangkat. Dendam tidak pernah menjadi tujuannya. Ia hanya ingin kedamaian bagi Lin Yue, bagi dirinya sendiri, dan bagi keadilan.
Saat mentari pagi menyinari makamnya, Wei Lian merasakan energinya menipis. Ia siap untuk pergi, untuk melanjutkan perjalanannya. Ia menatap Lin Yue, yang kini berdiri tegak di depan nisannya, matanya yang dulu redup, kini memancarkan cahaya baru.
Ia tersenyum… seolah beban itu sudah benar-benar lepas.
You Might Also Like: Cara Pelembab Ringan Lokal Tanpa
Post a Comment