Kau Mengingat Setiap Pelajaran, Tapi Melupakan Yang Paling Penting — Aku
Lampu lentera merah menari-nari di sepanjang lorong Istana Jade, tetapi di mata Mei-Ling, hanya ada kelam. Ia menggenggam erat liontin giok berbentuk naga, satu-satunya kenangan tentang saudaranya, Wei.
"Kau mengingat setiap aturan, Wei," bisik Mei-Ling, suaranya serak. "Kau menghafal setiap strategi perang, setiap intrik istana. Tapi kau... kau melupakan aku."
Dulu, mereka adalah dua anak yatim piatu yang ditemukan oleh Kaisar, diasuh dan dididik bersama. Wei, yang cerdas dan dingin, selalu selangkah lebih maju. Mei-Ling, dengan hati yang berapi-api dan kesetiaan yang membara, selalu ada di sisinya. Mereka adalah pedang dan perisai, naga dan phoenix, terikat oleh sumpah darah di bawah pohon sakura yang mekar.
"Kita akan memerintah bersama," Wei pernah berjanji, matanya berkilat penuh ambisi. "Aku akan menjadi Kaisar, dan kau akan menjadi perisaiku. Tak seorang pun akan berani menyentuhmu."
Namun, janji adalah angin. Dan angin, seperti yang dipelajari Mei-Ling dengan pahit, bisa berbalik arah.
Beberapa tahun kemudian, Wei menjadi Jenderal Besar, pahlawan yang dielu-elukan rakyat. Mei-Ling, menjadi penasihat kepercayaannya, selalu berada di bayang-bayang. Ia melihat perubahan dalam diri Wei. Ambisi yang dulu membara kini menjadi api yang menghanguskan. Senyumnya menjadi licik, matanya redup oleh pengkhianatan.
Rahasia mulai terkuak seperti sutra yang robek perlahan. Mei-Ling menemukan surat-surat rahasia yang membuktikan bahwa Wei telah bersekongkol dengan bangsa barbar di utara, mengorbankan ribuan nyawa demi kekuasaan.
"Bagaimana mungkin?" bisik Mei-Ling, jantungnya hancur berkeping-keping.
Ia menghadapi Wei di taman rahasia mereka, di bawah pohon sakura yang kini layu. Udara terasa berat dengan pengkhianatan.
"Aku melakukannya demi kekaisaran," kata Wei, suaranya sedingin es. "Aku akan membawa kejayaan bagi Dinasti Ming."
"Dengan darah dan pengkhianatan?" tanya Mei-Ling, air mata mengalir di pipinya.
"Kau tidak mengerti," jawab Wei, matanya tak berkedip. "Kau terlalu naif. Kekuasaan membutuhkan pengorbanan."
"Pengorbanan? Atau hanya ALASAN?" teriak Mei-Ling.
Lalu, kebenaran yang sesungguhnya terungkap, menyakitkan seperti racun. Wei telah merencanakan semuanya sejak awal. Ia menggunakan Mei-Ling, memanfaatkan kesetiaannya, untuk mencapai tujuannya. Liontin giok itu bukan simbol persaudaraan, tapi alat untuk memanipulasi.
"Kau tahu, Mei-Ling," kata Wei, tersenyum sinis. "Kaisar menemukan kita karena aku yang membocorkan keberadaan kita. Aku tahu sejak awal bahwa kau akan setia kepadaku. Aku tahu kau akan melakukan apa saja untukku."
Mei-Ling merasa dunia berputar. Ia telah dikhianati, bukan hanya oleh saudaranya, tapi oleh seluruh kehidupannya.
"Kau... kau," bisik Mei-Ling, suaranya bergetar.
Balas dendam menjadi satu-satunya yang tersisa.
Malam itu, saat Wei merayakan kemenangannya, Mei-Ling menyelinap ke kamarnya. Ia membawa pedang pusaka Kaisar, pedang yang seharusnya menjadi simbol keadilan.
"Aku telah belajar satu pelajaran penting, Wei," kata Mei-Ling, matanya menyala dengan kemarahan yang dingin. "Kadang-kadang, cinta adalah kelemahan terbesar."
Pedang itu menebas dengan mulus. Wei jatuh, tatapannya kosong.
"Kau pikir kau menang?" bisik Mei-Ling, suaranya penuh kebencian. "Kau salah. Kebenaran akan terungkap."
Mei-Ling menyerahkan diri kepada pengawal Kaisar. Ia tahu ia akan dihukum mati. Tetapi, sebelum kematian menjemputnya, ia memastikan bahwa semua orang akan tahu tentang pengkhianatan Wei. Surat-surat rahasia itu terungkap. Kebenaran terpampang jelas di hadapan seluruh istana.
Saat algojo mengangkat pedangnya, Mei-Ling menatap langit. Air mata terakhir mengalir di pipinya.
"Aku hanya ingin kau melihatku, sungguh melihatku, untuk sekali saja..."
You Might Also Like: 198 Uk Stabbing Spree Leaves 2 Kids
Post a Comment