Drama Abiss! Racun Itu Mengalir Di Nadiku, Seperti Nama Yang Tak Bisa Kulupa.

Racun Itu Mengalir di Nadiku, Seperti Nama yang Tak Bisa Kulupa.

Malam di Lembah Seribu Tangisan menyelimuti segalanya. Dingin menusuk tulang, seperti dendam yang membeku di hati Xiao Yun. Di tengah salju yang merah oleh percikan darah, dupa-dupa beraroma pahit mengepulkan asap, menyembunyikan air mata yang mengalir di pipi pucatnya. Di hadapannya, berdiri Li Wei, pria yang dicintainya, pria yang juga paling dibencinya.

"Dulu, kau pernah berjanji padaku di atas abu leluhur," bisik Xiao Yun, suaranya serak, "Kau bersumpah akan melindungiku. Tapi lihatlah, Wei... kaulah yang menodai salju ini dengan darahku."

Li Wei terdiam, wajahnya yang dulu tampan kini dipenuhi guratan penyesalan. Matanya, sekelam malam tanpa bintang, menatap Xiao Yun dengan pilu. Rahasia lama, yang terkubur dalam-dalam di balik senyum dan janji manis, kini terbongkar. Keluarga Li bertanggung jawab atas kematian seluruh keluarga Xiao. Ia, Li Wei, adalah bagian dari rencana keji itu.

"Aku... aku mencintaimu, Yun," lirih Li Wei, mencoba meraih tangan Xiao Yun.

Xiao Yun menepisnya. "Cinta? Cinta macam apa yang dibangun di atas pengkhianatan dan kematian? Cintamu adalah RACUN, Wei. Racun yang mengalir di nadiku, seperti nama yang tak bisa kulupa."

Ingatan melayang, kembali ke masa lalu yang indah namun penuh kebohongan. Pertemuan di taman bunga persik, ciuman pertama di bawah rembulan, janji setia di hadapan air terjun. Semuanya palsu. Semuanya ilusi.

"Ingatkah kau kalung giok ini?" Xiao Yun mengangkat kalung giok yang selalu dipakainya. "Dulu kau bilang ini adalah simbol cinta abadi. Tapi tahukah kau, di dalamnya tersimpan racun mematikan? Racun warisan keluargaku."

Li Wei terbelalak. Ketakutan merayapi wajahnya.

"Kau membunuh keluargaku, Wei. Sekarang... aku akan membalasnya."

Dengan gerakan anggun namun mematikan, Xiao Yun meraih belati tersembunyi di balik jubahnya. Tak ada amarah meledak-ledak, tak ada teriakan histeris. Hanya ketenangan yang menakutkan. Seperti danau es yang menunggu mangsanya terperosok.

Belati itu menancap tepat di jantung Li Wei. Ia ambruk di atas salju yang sudah merah, matanya memandang Xiao Yun dengan tatapan kosong.

"Balas dendam adalah hidangan yang paling nikmat disajikan dingin," bisik Xiao Yun, menatap mayat Li Wei tanpa ekspresi.

Xiao Yun berbalik, meninggalkan Lembah Seribu Tangisan yang sunyi. Ia berjalan menuju fajar yang mulai merekah, membawa serta dendam yang terbalaskan dan hati yang hancur tak terkira.

Di kejauhan, serigala melolong, memecah kesunyian malam.

Dan di balik senyum tipis di bibir Xiao Yun, tersembunyi sebuah janji yang baru terucap: "Ini... belum berakhir."

You Might Also Like: Skincare Alami Untuk Kulit Sensitif

Post a Comment