Aku Mencintaimu Seperti Rahasia, Indah Tapi Menyesakkan
Malam itu, salju turun seperti tirai kelabu yang menutupi segalanya. Di puncak gunung yang sunyi, kuil tua berdiri membisu, asap dupa menari-nari di antara arca dewa yang dingin. Di sanalah, di tengah kesunyian yang memekakkan telinga, takdir kami terjalin dalam simpul cinta dan kebencian yang tak terurai.
Lian, dengan mata setajam belati, menatapku. Dulu, matanya adalah kolam madu tempatku tenggelam dalam kebahagiaan. Sekarang, hanya ada api kemarahan yang membakar habis sisa-sisa cinta. Di tangannya, pedang perak berkilauan tertimpa cahaya bulan, siap menumpahkan DARAH di atas salju yang tak berdosa.
"Kau," desisnya, suaranya serak tertahan. "Kau adalah kutukan dalam hidupku."
Aku, Mei, hanya bisa menunduk. Kata-katanya seperti pecahan kaca yang menghujam jantungku. Benar, akulah penyebab semua ini. Rahasia kelam yang selama ini kupendam, akhirnya terkuak. Rahasia tentang pembantaian keluarganya, tentang pengkhianatan yang membawanya pada jurang keputusasaan.
Flashback berputar dalam benakku:
- Dulu, kami adalah dua sejoli yang dimabuk asmara. Tertawa di bawah pohon sakura yang bermekaran, berjanji setia di bawah rembulan yang sama. Aku, putri seorang jenderal, dan dia, putra dari keluarga terpandang. Cinta kami adalah RAHASIA, terlarang oleh permusuhan yang mengakar dalam keluarga kami.
- Namun, rahasia memiliki harga yang mahal. Ayahku, yang mengetahui hubungan kami, merencanakan pembantaian. Dia membunuh semua anggota keluarga Lian, dengan keji dan tanpa ampun. Aku, yang menyaksikan semua itu, hanya bisa bersembunyi, membungkam jeritan di dalam dada. Aku memilih diam, demi melindungi diriku sendiri. KEBOHONGAN itu menjadi tembok yang memisahkan kami.
Kembali ke masa kini, Lian maju selangkah. Air mata mengalir di antara asap dupa yang menyesakkan. "Semua janji kita, Mei… semua kenangan indah… semuanya hanya KEBOHONGAN?"
Aku mengangkat wajahku, menatap matanya yang terluka. "Aku mencintaimu, Lian. Sungguh."
"Cinta?" Dia tertawa sinis. "Cinta macam apa yang tega mengkhianati, yang tega bersembunyi di balik tirai darah? Cintamu adalah racun yang membunuhku perlahan."
Pedang Lian terangkat tinggi. Aku menutup mata, menunggu akhir yang pantas kuterima. Namun, pedang itu tidak pernah menyentuhku.
Aku membuka mata. Lian berdiri mematung, tubuhnya bergetar hebat. Di belakangnya, sosok ayahku muncul, dengan pedang berlumuran darah di tangannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu membunuh putriku," geramnya.
Lian berbalik, menatap ayahku dengan tatapan penuh kebencian. Pertarungan sengit pun terjadi. Pedang beradu, menciptakan percikan api di tengah kegelapan. Pada akhirnya, ayahku tumbang, dengan luka menganga di dadanya.
Lian berdiri di atas tubuh ayahku, napasnya terengah-engah. Dia menoleh padaku, matanya kosong. "Aku sudah membalas dendam," bisiknya. "Tapi hatiku… tetap kosong."
Dia berbalik, berjalan menjauh. Aku mengulurkan tangan, mencoba meraihnya. "Lian! Jangan pergi!"
Dia tidak menoleh. Dia terus berjalan, menghilang di antara salju dan kegelapan. Aku terduduk lemas di atas salju yang merah.
Bertahun-tahun kemudian, aku menjadi penguasa istana ini, meneruskan tahta yang ditinggalkan ayahku. Aku memerintah dengan keadilan, mencoba menebus dosa-dosa masa lalu. Namun, setiap malam, bayangan Lian menghantuiku. Aku mendengar bisikan namanya di antara hembusan angin, merasakan sentuhannya di antara dinginnya salju.
Suatu malam, seorang prajurit datang menghadapku. Dia membawa sepucuk surat, tanpa nama pengirim. Aku membuka surat itu dengan tangan gemetar.
Di dalamnya tertulis:
"Aku telah menghancurkan semua orang yang menyakitimu, Mei. Sekarang giliranmu."
Aku terdiam. Aku tahu siapa pengirimnya. Aku tahu apa yang akan terjadi.
Balas dendamnya bukan dengan pedang, bukan dengan kekerasan. Balas dendamnya adalah dengan mengambil SEMUA YANG KUMILIKI, termasuk nyawaku sendiri.
Malam itu, aku ditemukan tewas di kamarku. Di samping tubuhku, tergeletak sehelai kain sutra, dengan aroma dupa yang familiar.
Keesokan harinya, seluruh kerajaan dilanda ketakutan. Mereka tahu, bahwa KEADILAN YANG SESUNGGUHNYA baru saja dimulai...
You Might Also Like: Jual Skincare Dengan Kandungan Alami
Post a Comment