Absurd tapi Seru: Bayangan Yang Menjadi Doa Setiap Malam

Baiklah, ini dia kisah dracin tragis yang Anda minta, dengan gaya yang Anda inginkan: **Bayangan yang Menjadi Doa Setiap Malam** Angin malam berbisik di antara lentera merah yang menggantung di sepanjang jalanan Kota Terlarang. Dulu, suara riang tawa kami menggema di sini. Dulu, **KAMI** tidak punya rahasia. Mei Lan, dengan mata setajam elang di balik senyum manisnya, adalah saudaraku, sahabatku, sekaligus bayanganku. Kami tumbuh besar di bawah atap istana, berbagi mimpi tentang kekuasaan dan cinta. Kami adalah sekutu yang tak terpisahkan, **BENTENG** yang tak tertembus. Atau begitulah yang kupercaya. "Cahaya bulan malam ini begitu indah, bukan, Lan?" ujarku, menyesap teh pahit yang terasa hambar di lidah. "Seindah janji yang kau ucapkan padaku, Xiao Xing," balasnya, nadanya lembut namun matanya berkilat dingin. *Janji.* Kata itu terasa seperti duri yang menusuk jantungku. Janji tentang tahta. Janji tentang kesetiaan. Janji yang ternyata hanyalah ilusi belaka. Rahasia mulai merayap di antara kami seperti kabut beracun. Aku melihat bayangan mencurigakan di matanya. Aku mendengar bisikan pengkhianatan di balik senyumnya. Perlahan, puzzle kebenaran mulai tersusun: Mei Lan, saudaraku, telah mengkhianatiku. Dia telah merencanakan untuk merebut tahta dariku, dengan menikahi Pangeran Ketiga yang ambisius. Malam itu, di taman rahasia yang dipenuhi bunga sakura yang berguguran, aku menghadapinya. "Kau... kau mengkhianatiku, Lan?" suaraku bergetar, bukan karena takut, tapi karena *KEHANCURAN*. Tawanya bagai derai hujan es. "Xiao Xing, kau terlalu naif. Kekuasaan adalah segala-galanya. Persahabatan hanyalah alat untuk mencapai tujuan." "Tapi... kita saudara!" "Saudara tiri," koreksinya, matanya tanpa ampun. "Kau bukan darah daging keluarga kekaisaran. Kau hanyalah anak haram yang diangkat oleh Kaisar." *Anak haram.* Pengakuan itu menghantamku seperti gelombang tsunami. Semua yang kupercaya selama ini hancur berkeping-keping. Kebencian membara di dadaku, mengalahkan rasa sakit dan pengkhianatan. Pertarungan kami sengit dan brutal. Pedang kami menari di bawah cahaya rembulan, mencerminkan amarah dan keputusasaan. Pada akhirnya, aku yang menang. Mei Lan tergeletak tak berdaya di kakiku, darah membasahi gaun sutranya. "Kenapa, Lan? Kenapa kau lakukan ini?" "Karena... aku mencintai tahta lebih dari apapun," bisiknya lemah. "Dan aku... aku tidak pernah menyukaimu." Aku mengangkat pedangku, mengakhiri hidupnya dengan satu tebasan. Kegelapan menyelimutiku. Kemenangan ini terasa hampa, pahit, dan penuh penyesalan. Beberapa hari kemudian, aku naik tahta, dengan hati yang remuk redam dan tangan yang berlumuran darah. Aku memerintah dengan tangan besi, dibayangi oleh bayangan Mei Lan dan dosa-dosaku sendiri. Setiap malam, aku berdoa agar dia memaafkanku. Tapi yang kudengar hanyalah gema tawanya yang menghantui. Bertahun-tahun berlalu. Aku menjadi Kaisar yang kejam dan ditakuti. Istana yang dulu penuh dengan tawa kini dipenuhi dengan kesunyian. Aku kehilangan segalanya: sahabat, cinta, dan kedamaian batin. Di ranjang kematianku, aku memanggil tabib istana. "Tuliskan ini," bisikku, suaraku serak dan lemah. "Katakan pada dunia... bahwa... ***aku selalu mencintainya, meskipun dia membenciku.***"
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Reseller Dropship

OlderNewest

Post a Comment