TOP! Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu Yang Masih Kuingat

Hujan menggigil di atap paviliun usang, menari-nari seirama dengan degup jantungku yang tak keruan. Aroma tanah basah dan kenangan pahit bercampur, menyesakkan. Aku memeluk bayanganmu, bayangan yang setia menemani sejak kau pergi, sejak bibirmu mengecup dusta di bibir wanita lain. Hanya itu yang masih kuingat, hanya itu yang tersisa. Namamu, Li Wei, dulu adalah melodi terindah. Kini, bagai mantra yang terlarang, menyakitkan setiap kali terucap dalam hati. Kau meninggalkanku di bawah langit malam, di antara lentera-lentera yang nyaris padam. Kau bilang ini demi kebaikan kita. *Kebaikan macam apa yang dibangun di atas pengkhianatan, Li Wei?* Dulu, kita sering berjalan di bawah pohon maple yang rindang, daun-daunnya menari dalam harmoni sempurna. Sekarang, setiap helai daun yang jatuh mengingatkanku pada janji-janji yang kau ingkari. Bayanganku patah di bawah rembesan air hujan, seolah ikut merasakan perihnya hatiku. Kau kembali, Li Wei. Setelah lima tahun berlalu. Lebih tampan, lebih mapan, dan lebih… penuh sesal? Kau memohon maaf, kau bilang kau khilaf. Kau bilang, kau selalu memikirkanku. Aku tersenyum tipis, membiarkan air mata hujan menyamarkan jejak air mata yang sebenarnya. Aku menerima uluran tanganmu. Aku memaafkanmu. Aku bahkan membiarkanmu menyentuhku lagi. Tapi, di balik senyum palsuku, dendam itu tumbuh subur. Seperti jamur beracun di bawah kayu lapuk, ia meracuni setiap pori-pori jiwaku. Setiap sentuhanmu, setiap kata maafmu, hanya memicu api yang sudah lama membara. Aku tahu kelemahanmu, Li Wei. Aku tahu apa yang paling kau cintai. Dan aku akan mengambilnya. Perlahan, sistematis, tanpa ampun. Aku akan membuatmu merasakan sakit yang sama, bahkan lebih parah. Malam ini, di bawah cahaya lentera yang berkedip-kedip, aku menuangkan racun ke dalam anggurmu. Kau meminumnya tanpa curiga, menatapku dengan mata penuh cinta dan penyesalan. Saat kau terbatuk, saat matamu membelalak penuh ngeri, aku tersenyum lebar. Akhirnya, aku bisa melihat *KEBENARAN* di matamu. Kau bertanya mengapa. Aku berbisik di telingamu, kalimat yang selama ini kupendam, kalimat yang akan menjadi warisan terakhirmu: "Lima tahun lalu, bukan hanya hatiku yang kau hancurkan, Li Wei… **KAULAH YANG MEMBUNUH ANAK KITA.**"
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Peluang Usaha

OlderNewest

Post a Comment