## Kau Menatapku di Tengah Medan Perang, dan Aku Lupa Bagaimana Caranya Membenci Debu beterbangan, menyelimuti aroma mesiu dan darah. Teriakan menggema, nyawa melayang bagai daun kering di musim gugur. Namun, di tengah kekacauan ini, hanya ada *dia*. Cahaya matahari senja menyinari wajahnya yang lelah, menciptakan siluet dramatis di antara reruntuhan. Mata elangnya, dulu berbinar penuh cinta, kini dipenuhi ketegaran dan… penyesalan? Aku ingat janji itu, di bawah pohon sakura yang bermekaran lima belas tahun lalu. Janji yang diucapkannya dengan suara bergetar, tangan menggenggam erat tanganku. *"Aku akan melindungimu, Mei Lian. Selamanya."* Kata-kata itu kini terasa seperti pecahan kaca yang menusuk-nusuk hatiku. Dia, *Jenderal Zhao*, memimpin pasukan yang menghancurkan rumahku, merenggut keluargaku. Dia, kekasih masa kecilku, kini berdiri di hadapanku sebagai musuh bebuyutanku. "Mei Lian…" Suaranya parau, teredam oleh hiruk pikuk pertempuran. Aku tidak menjawab. Bibirku kelu, lidahku terasa berat. Kebencian yang selama ini kurawat, yang menjadi bahan bakar dendamku, tiba-tiba lenyap. ***Mata*** itu… Mata yang dulu selalu membuatku merasa aman, kini menatapku dengan tatapan yang sama, tapi diwarnai kesedihan yang mendalam. *Kau menatapku di tengah medan perang, dan aku lupa bagaimana caranya membenci.* Aku ingat malam itu, saat dia mengirimkan utusan rahasia dengan pesan terselubung. Dia tahu aku akan membalas dendam. Dia bahkan menyediakan informasi tentang strategi pasukannya, memberikan aku jalan untuk mencapai tujuanku. Apakah ini cara dia menebus kesalahannya? Pengorbanan diri yang terlambat? Saat pasukan pemberontakku akhirnya berhasil memenangkan pertempuran, aku mendapatinya tergeletak di tanah, pedang di tangannya yang terlepas. Luka di dadanya menganga lebar, merenggut napasnya. Aku berlutut di sampingnya, tangan gemetar menyentuh pipinya yang dingin. "Mengapa?" bisikku, suaraku nyaris tak terdengar. Dia tersenyum tipis, darah menetes dari sudut bibirnya. "Untuk menebus… Mei Lian… menebus…" Napasnya terhenti. Matanya terpejam untuk selamanya. Kemenangan ini terasa pahit. Dendamku terbalaskan, tapi hatiku terasa kosong. Kehilangan itu begitu nyata, begitu abadi. Kemudian, aku melihatnya. Pedang pusaka yang dia selalu bawa, tergeletak di dekat jasadnya. Di bilahnya, terukir sebuah kalimat: "*Keadilan sejati adalah pengorbanan yang tulus.*" Keadilan? Pengorbanan? Apakah ini cara takdir mempermainkanku? Mengambil nyawanya, memberiku kemenangan, dan meninggalkan aku dengan penyesalan yang tak tertebus? Tidak. Takdir tidak mempermainkanku. Takdir hanya *menuntut*. Aku mengambil pedang itu, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan memerintahkan pasukanku untuk meneruskan perjuangan. Aku akan memerintah kerajaan ini dengan keadilan dan belas kasih, demi menghormati pengorbanannya. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku tahu bahwa setiap kebijakan yang kubuat, setiap keputusan yang kuambil, akan selalu diwarnai oleh cinta yang hilang dan dendam yang tak pernah benar-benar padam; *Bisakah aku benar-benar mencintai kedamaian yang dibangun di atas tumpukan mayat, salah satunya adalah dia?*
You Might Also Like: How To Get Returns Policy Data From Api
Post a Comment